Selasa, 24 Januari 2012

Tata Surya ( bersama )

TERNYATA BULAN  SEMAKIN MENJAUH
bulan
bulan2
Pada suatu masa—jutaan tahun ke depan—keturunan kita tidak akan bisa melihat bulan seperti sekarang.
Tidak ada lagi fenomena gerhana matahari ataupun bulan total, kecuali dalam jejak rekam sejarah sains. Lambat, tetapi pasti bulan semakin bergerak menjauh dari bumi.
Bukan tanpa alasan Neil Armstrong—manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan—meninggalkan jejak panel reflektor yang terdiri atas 100 cermin beberapa menit sebelum dia meninggalkan bulan pada 21 Juli 1969. Reflektor inilah yang kemudian menuntun manusia pada penemuan fakta mencengangkan.
Memanfaatkan reflektor yang tertinggal di bulan, Prof Carrol Alley, fisikawan dari University of Maryland, Amerika Serikat, mengamati pergerakan orbit bulan. Caranya adalah dengan menembakkan laser dari observatorium ke reflektor di bulan. Di luar dugaan, dari hasil pengamatan tahunan, jarak bumi-bulan yang terekam dari laju tempuh laser bumi-bulan terus bertambah.
Diperkuat sejumlah pengamatan di McDonald Observatory, Texas, AS, dengan menggunakan teleskop 0,7 meter diperoleh fakta bahwa jarak orbit bulan bergerak menjauh dengan laju 3,8 sentimeter per tahun.
Para ahli meyakini, 4,6 miliar tahun lalu, saat terbentuk, ukuran bulan yang terlihat dari bumi bisa 15 kali lipat daripada sekarang. Jaraknya saat itu hanya 22,530 kilometer, seperduapuluh jarak sekarang (385.000 km).
Seandainya manusia sudah hidup pada masa itu, hari-hari yang dijalankan terasa lebih cepat. Hitungan kalender pun bakal berbeda. Bagaimana tidak, jika dalam sebulan waktu edar mengelilingi bumi hanya 20 hari, bukan 29-30 hari seperti sekarang. Rotasi bumi ketika itu pun berlangsung lebih cepat, hanya 18 jam sehari.
Jutaan tahun dari sekarang, seiring dengan menjauhnya bulan, hari-hari di bumi pun akan semakin lama, hingga mencapai 40 hari dalam sebulan. Hari pun bisa berlangsung semakin lama, hingga 30 jam. Lantas, mengapa ini bisa terjadi?
Takaho Miura dari Universitas Hirosaki, Jepang, dalam jurnal Astronomy & Astrophysics mengemukakan, jika bumi dan bulan, termasuk matahari, saling mendorong dirinya. Salah satunya, ini dipicu interaksi gaya pasang surut air laut.
Gaya pasang surut yang diakibatkan bulan terhadap lautan di bumi ternyata berangsur-angsur memindahkan gaya rotasi bumi ke gaya pergerakan orbit bulan. Akibatnya, tiap tahun orbit bulan menjauh. Sebaliknya, rotasi bumi melambat 0,000017 detik per tahun.
Sumber: kompas.com

Stabilitas iklim

Fakta menjauhnya orbit bulan ini menjadi ancaman tidak hanya populasi manusia, tetapi juga kehidupan makhluk hidup di bumi. Pergerakan bulan, seperti diungkapkan Dr Jacques Laskar, astronom dari Paris Observatory, berperan penting menjaga stabilitas iklim dan suhu di bumi.
”Bulan adalah regulator iklim bumi. Gaya gravitasinya menjaga bumi tetap berevolusi mengelilingi matahari dengan sumbu rotasi 23 derajat. Jika gaya ini tidak ada, suhu dan iklim bumi akan kacau balau. Gurun Sahara bisa jadi lautan es, sementara Antartika menjadi gurun pasir,” ucapnya kepada Science Channel.
Sejumlah penelitian menyebutkan, pergerakan bulan juga berpengaruh terhadap aktivitas makhluk hidup. Terumbu karang, misalnya, biasa berkembang biak, mengeluarkan spora, ketika air pasang yang disebabkan bulan purnama tiba.
Bulan penuh juga dipercaya meningkatkan perilaku agresif manusia. Di Los Angeles, AS, kepolisian wilayah setempat biasanya akan lebih waspada terhadap peningkatan aktivitas kriminal saat purnama.
Menjauhnya bulan dari bumi diyakini ahli geologis juga berpengaruh terhadap aktivitas lempeng bumi. Beberapa ahli telah lama menghubungkan kejadian sejumlah gempa dengan aktivitas bulan. ”Kekuatan yang sama yang menyebabkan laut pasang ikut memicu terangkatnya kerak bumi,” ucap Geoff Chester, astronom yang bekerja di Pusat Pengamatan Angkatan Laut AS, seperti dikutip dari National Geographic.
Beberapa kejadian gempa besar di Tanah Air yang pernah tercatat diketahui juga terkait dengan pergerakan bulan. Gempa-tsunami Nanggroe Aceh Darussalam (2004), Nabire (2004), Simeuleu (2005), dan Nias (2005) terjadi saat purnama. Gempa Mentawai (2005) dan Yogyakarta (2005) terjadi pada saat bulan baru dan posisi bulan di selatan.

Misi terbaru NASA

Kini, bulan sebagai tetangga terdekat bumi kembali menjadi perhatian riset astronomi di dunia. Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) pada Jumat (19/6) meluncurkan wahana LCRoS (Lunar Crater Observation and Sensing Satellite) di Cape Canaveral, AS. Wahana ini adalah bagian dari misi Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO), yaitu persiapan program mengembalikan astronot ke bulan tahun 2020 setelah terakhir dilakukan pada 1969-1972 (Reuters, 18/6).
Sasaran utama misi LCRoS untuk memastikan ada tidaknya air beku yang dipercaya berada di kawasan kawah gelap dekat kutub bulan. Dibantu dengan LRO yang memetakan permukaan di bulan secara detail, kedua misi baru ini mengisyaratkan hal besar: menancapkan tonggak baru soal kemungkinan membangun koloni di luar bumi!
Namun, dengan penuh kerendahan hati, Craig Tooley, LRO Project Manager, mengatakan, ”Pengetahuan kita tentang bulan secara keseluruhan saat ini masih minim. Kita punya peta lebih baik tentang Mars, tetapi tidak untuk bulan kita sendiri.”
SEORANG ANAK DITABRAK METEOR?
Okezone.com Senin, 15 Juni 2009 – 07:17 wib
tabrak meteor
BERLIN – Seorang anak berusia 14 tahun, warga negara Jerman, mengklaim bahwa dirinya telah ditabrak oleh meteor yang berkecepatan 30.000 mph.
Meteor berukuran sebesar biji kacang polong itu berhasil mengenai tangan kirinya dan meninggalkan sebuah luka yang cukup dalam.
“Ketika meteor tersebut menabrak, saya sempat terkejut dan tidak sadarkan diri. Bahkan ketika saya sadar, meteor tersebut sudah menyatu dengan tanah,” ujar remaja bernama Gerrit Blank itu, seperti dilansir melalui Space.com, Senin (15/6/2009).
Para astronom yang meneliti kejadian ini membenarkan bahwa Blank memang terkena ‘timpuk’ sebuah benda yang berasal dari luar angkasa.
“Kebanyakan meteor memang langsung menguap saat berada di atmofir, untuk kemudian tercipta bintang jatuh, dan meteor biasanya tidak pernah mencapai tanah,” ujar tim ilmuwan yang meneliti kejadian ini.
Menurut mereka, kebanyakan meteor yang jatuh dan menimpa bumi terbuat dari metal. Bahkan kebanyakan batu luar angkasa, meskipun mereka berukuran sebesar mobil, akan langsung terbelah atau meledak, jika meteor-meteor tersebut jatuh ke bumi.
Beberapa kejadian meteor yang menimpa rumah, mobil atau barang-barang besar yang ada di bumi memang cukup banyak. Namun para ilmuwan merasa heran jika ada manusia yang pernah tertimpa meteor dan hanya mengalami luka.
“Jika meteor mampu meledakkan rumah dan mobil, pastinya meteor akan membuat seseorang terbunuh,” ujar ilmuwan. (srn
KOMET SUMBER KEHIDUPAN DI BUMI?
Okezone.com Kamis, 30 April 2009 – 11:02 wib
komet2
LONDON – Komet selalu mempesona bagi setiap orang. Penemuan baru dari para ilmuwan nampaknya akan semakin menambah pesona tersebut. Pasalnya, mereka menemukan bahwa komet memiliki berbagai elemen yang berkontribusi pada kemunculan kehidupan di Bumi.
Tim dari Tel Aviv University yang diketuai oleh Professor Akiva Bar-Nun, mengatakan bahwa komet diyakini merupakan elemen yang tertinggal, yang sangat dibutuhkan pada awal pembentukan Bumi di masa silam. Konon, kandungan komposisi kimia dalam komet membantu mereka memulai kehidupan.
“Komet yang meluncur ke Bumi melalui atmosfer sekira empat miliar tahun lalu membawa muatan organik dalam kapasitas besar ke Bumi yang kala itu masih muda. Materi tersebut kemudian bergabung dengan sekumpulan raksasa materi organik lainnya di Bumi dan membentuk kehidupan di Bumi,” demikian ujar Profesor Bar-Nun yang dikutip dari Times of India, Kamis (30/4/2009).
Dengan menggunakan sejenis mesin yang dibuat oleh tim dari Tel Aviv University, para ilmuwan melakukan simulasi komet es. Dari simulasi itu ditemukan, komet tersebut mengandung bahan-bahan yang diperlukan dalam pembentukan Bumi.
Secara spesfik, mereka membandingkannya dengan sejenis gas mulia seperti Argon, Krypton, dan Xenon karena gas tersebut tidak bercampur dengan elemen lain dan tidak termusnahkan oleh Oksigen Bumi. Elemen tersebut memiliki proporsi yang utuh dalam atmosfer Bumi sepanjang kehidupan planet. (srn)
KOMET 2 KALI MUSNAHKAN KEHIDUPAN


Okezone.com Senin, 5 Januari 2009 – 12:06 wib
komet1
WASHINGTON – Bumi yang kita huni selama ini, ternyata sudah dua kali dihantam oleh komet. Hantaman ini pula yang menyebabkan bumi mengalami kemusnahan.
Seperti diketahui, bahwa selama ini diketahui kalau komet yang menghujam Bumi hanya terjadi satu kali, yaitu pada 65 juta tahun lalu, yang memusnahkan kehidupan pada jaman itu. Akan tetapi, sebuah penelitian mengungkapkan kalau 13 ribu tahun lalu, komet juga pernah menghantam Bumi, sehingga seluruh denyut kehidupan berhenti.
Penelitian yang dipimpin oleh Douglas Kennett dari University of Oregon mengungkapkan ledakan sebuah komet besar pernah membunuh mammoth, harimau bergigi besar serta mamalia besar lainnya di Arizona, serta sejumlah besar kawasan di Amerika Utara.
Dalam laporan tersebut juga ditambahkan, sebuah komet yang telah membeku ratusan juta tahun lalu berhasil masuk atmosfer bumi dan memusnahkan binatang-binatang besar tersebut.
Di beberapa wilayah benua Amerika, peneliti menemukan nanodiamond, sebuah partikel mikroskopik yang ditemukan pada komet di lapisan berumur 13.000 tahun yang disebut ‘black mat’. Di bawah lapisan nanodiamond tersebut, terdapat fosil dalam jumlah sangat besar. Sedangkan di bawah lapisan lainnya itu tidak ditemukan adanya fosil sama sekali.
“Data ini mendukung hipotesa yang mendukung komet atau karbon khondrites (jenis meteorit), mampu menyebabkan ‘kejutan’ di udara dan kemungkinan berdampak pada permukaan 13 ribu tahun lalu,” terang Douglas Kennett, seperti yang dilansir Reuters, Senin (5/1/2009).
“Penelitian ini memberikan bukti-bukti kuat bahwa kosmik berdampak pada peristiwa sekitar 13 ribu tahun yang lalu. Dan ini akan mempunyai banyak konsekuensi lingkungan untuk tanaman, hewan dan manusia di Amerika Utara,” pungkasnya. (srn)
BUNGA TUMBUH DI JUPITER
Okezone.com Jum’at, 8 Mei 2009 – 09:16 wib
jupiter
LONDON - Ilmuwan telah memperkirakan bahwa pesawat ruang angkasa telah menemukan tanda-tanda kehidupan pada bulan milik planet Jupiter bernama Europa.
Mereka telah menemukan bahwa di bulan yang tertutupi es ini tumbuh sekumpulan bunga yang bermekaran di sana.
Europa telah lama menjadi incaran penelitian para ahli astrobiologi karena diperkirakan di bawah permukaan es bulan ini terdapat kandungan air laut, yang mengindikasikan adanya kehidupan. Namun karena sangat keras dan tebalnya, sulit bagi para ilmuwan untuk menggali dan menganalisa lapisan ini.
“Tanda-tanda kehidupan dapat terlihat dari orbit pesawat ruang angkasa. Namun jika terdapat lubang hasil galian pada lapisan Europa, akan menghubungkan permukaan ke bagian dalam,” ujar ahli fisika dan futuris Freeman Dyson, yang dikutip dari Times of India, Jumat (8/5/2009).
Jenis kehidupan tertentu mungkin saja terjadi dalam pertumbuhan bunga seperti parabola yang tertuju pada cahaya matahari pada bagian dalam tumbuhan.
Bunga yang tumbuh di Europa dapat terdeteksi melalui retroreflection, yaitu efek optik yang terlihat dalam cahaya yang dipantulkan dari mata hewan atau tumbuhan,” tandas Dyson. (srn)
SATURNUS DIKELILINGI 4 BULAN

Okezone.com Rabu, 18 Maret 2009 – 12:20 wib
saturnus
FLORIDA – Perangkat perekam gambar milik NASA berhasil menangkap fenomena yang cukup langka. Dalam gambar tersebut, planet Saturnus dikelilingi oleh empat buah planet seukuran bulan.
Dilansir melalui Space.com, Rabu (18/3/2009), gambar yang diambil pada 24 Februari lalu oleh Hubble Telescope ini memperlihatkan empat planet bulan itu berdiam sejenak di muka Saturnus dalam posisi berjajar.
Bulan-bulan tersebut, diindetifikasi dari kiri ke kanan, adalah dua buah bulan es berwarna putih bernama Enceladus dan Dione, bulan besar berwarna oranye bernama Titan dan satu bulan es lainnya bertajuk Mimas.
Fenomena ini tergolong langka karena hanya terjadi ketika cincin Saturnus dalam keadaan terlalu miring, jika dillihat dari bumi. Pinggiran cincin Saturnus akan terlihat sangat jelas dari bumi pada tanggal 10 Agustus dan 4 September 2009 karena saat itu posisi Saturnus akan sangat dekat dengan matahari. Fenomena ini dikabarkan hanya akan terjadi setiap 14 hingga 15 tahun sekali.
Gambar Saturnus ini diambil dalam jarak 1,25 miliar kilometer dari bumi. (srn)
PERMUKAAN MERKURIUS MENYUSUT
Okezone.com Rabu, 18 Maret 2009 – 12:20 wib
saturnus
FLORIDA – Perangkat perekam gambar milik NASA berhasil menangkap fenomena yang cukup langka. Dalam gambar tersebut, planet Saturnus dikelilingi oleh empat buah planet seukuran bulan.
Dilansir melalui Space.com, Rabu (18/3/2009), gambar yang diambil pada 24 Februari lalu oleh Hubble Telescope ini memperlihatkan empat planet bulan itu berdiam sejenak di muka Saturnus dalam posisi berjajar.
Bulan-bulan tersebut, diindetifikasi dari kiri ke kanan, adalah dua buah bulan es berwarna putih bernama Enceladus dan Dione, bulan besar berwarna oranye bernama Titan dan satu bulan es lainnya bertajuk Mimas.
Fenomena ini tergolong langka karena hanya terjadi ketika cincin Saturnus dalam keadaan terlalu miring, jika dillihat dari bumi. Pinggiran cincin Saturnus akan terlihat sangat jelas dari bumi pada tanggal 10 Agustus dan 4 September 2009 karena saat itu posisi Saturnus akan sangat dekat dengan matahari. Fenomena ini dikabarkan hanya akan terjadi setiap 14 hingga 15 tahun sekali.
Gambar Saturnus ini diambil dalam jarak 1,25 miliar kilometer dari bumi. (srn)


BUKTI PERTAMA ADA DANAU DI MARS
danau maers
WASHINGTON, Ngarai dalam dan panjang serta bekas pantai barangkali merupakan bukti paling jelas mengenai keberadaan danau di permukaan Mars. Menurut beberapa ilmuwan, Rabu (17/6), diduga danau itu pernah berisi air, tetapi kini sudah kering.
Gambar dari sebuah kamera yang disebut High Resolution Imaging Science Experiment di pesawat Reconnaissance Orbiter menunjukkan air memotong ngarai sepanjang 50 kilometer. Demikian diungkapkan tim di University of Colorado, Boulder.
“Danau itu diduga memiliki ukuran 200 kilometer persegi dan kedalaman 450 meter,” tulis para peneliti tersebut di jurnalGeophysical Research Letters dan dilansir Reuters.
Sekarang tak ada perdebatan bahwa air memang ada di permukaan Mars; robot peneliti telah menemukan es. Juga ada bukti bahwa air mungkin masih merembes ke permukaan dari bawah tanah, kendati air itu segera hilang akibat cuaca dingin, atmosfer tipis Planet Merah tersebut.
Beberapa ilmuwan mengenai planet juga telah melihat apa yang boleh jadi merupakan tepi sungai raksasa dan laut, tetapi sebagian bentuk itu juga dapat diperdebatkan dan diduga terbentuk oleh longsoran tanah kering. “Ini adalah bukti pertama yang tak meragukan mengenai garis pantai di permukaan Mars,” kata Gaetano Di Achille, yang memimpin studi tersebut.
“Pengidentifikasian jalur pantai dan bukti ekologi yang menyertai memungkinkan kami menghitung ukuran dan volume danau itu, yang tampaknya terbentuk sekitar 3,4 juta tahun lalu,” kata Di Achille dalam satu pernyataan.
Air adalah kunci bagi kehidupan dan para ilmuwan mencari dengan sia-sia bukti mengenai kehidupan, baik pada waktu lalu, maupun sekarang, di Mars. Keberadaan air di planet itu juga dapat bermanfaat bagi penelitian manusia pada masa depan. “Di Bumi, delta dan danau adalah pengumpul yang sangat bagus dan pelestari tanda kehidupan masa lalu,” kata Di Achille. “Jika kehidupan pernah ada di Mars, delta mungkin menjadi kunci guna membuka rahasia biologi masa lalu di Mars,” kata Di Achille.
“Bukan hanya penelitian ini membuktikan bahwa ada sistem danau yang lama hidup di Mars, tapi kita juga dapat melihat bahwa danau yang terbentuk setelah kondisi hangat, basah, diduga telah hilang,” kata asisten profesor, Brian Hynek.
Danau tersebut barangkali telah menguap atau membeku selama perubahan iklim singkat. Demikian dikatakan para peneliti itu. Airnya diduga telah berubah menjadi uap. Tak seorang pun mengetahui apa yang mengubah Mars dari planet yang hangat dan lembab menjadi seperti sekarang: gurun beku tanpa udara.
Sumber: Kompas.com KAMIS, 18 JUNI 2009 | 15:07 WIB
ANCAMAN ITU DATANG DARI MATAHARI
Kompas.com Rabu, 22 Oktober 2008 | 08:38 WIB
Matahari. Sinar dan panasnya tentu begitu penting bagi kelangsungan kehidupan di muka bumi ini sepanjang masa. Namun, di balik benderangnya benda langit itu tersembunyi ”sisi gelap” yang mengganggu kondisi di bumi, yaitu bintik hitam (sunspot) yang diikuti badai dan flare.
Sebagai pusat peredaran planet-planet di tata surya, matahari merupakan sumber energi bagi makhluk di bumi. Energi itu dihasilkan dari reaksi termonuklir untuk mengubah hidrogen menjadi helium yang terjadi di dekat inti matahari. Suhu di bagian pusat matahari yang terdiri dari gas berkerapatan 100 kali kerapatan air di bumi itu, mencapai 15 juta derajat Celsius.
Di dalam perut matahari terjadi rotasi dan aliran massa atau konveksi yang memengaruhi gaya magnetnya. Pada aktivitas tinggi, gaya magnet ini bisa terpelintir atau berpusar hingga menembus permukaan matahari membentuk ”kaki-kaki”, yang tampak bagai bintik hitam.
Bintik hitam matahari memiliki diameter sekitar 32.000 kilometer, umumnya terdiri dari dua bagian, yaitu bagian dalam yang disebut umbra, berdiameter 13.000 km atau seukuran diameter rata-rata bumi dan bagian luar disebut penumbra yang garis tengahnya kurang lebih 19.000 km. Suhu penumbra lebih panas dan warnanya lebih cerah dibanding umbra.
Suhu gas yang terbentuk di lapisan fotosfer dan kromosfer di atas kelompok bintik hitam itu naik sekitar 800º Celsius di atas suhu normalnya. Akibatnya, gas ini memancarkan sinar lebih besar dibandingkan dengan gas di sekelilingnya.
Setelah beberapa hari, pelintiran magnetik ini terpecah menjadi beberapa pelintiran lebih tipis. Masing-masing bergerak melintasi permukaan ke berbagai arah hingga menghilang.
Seperti di bumi, di permukaan matahari pun terjadi badai. Badai matahari terjadi di daerah kromosfer dan korona—berada di atas kawasan munculnya bintik-bintik hitam. Beberapa badai matahari juga muncul ketika terjadi ledakan cahaya atau flare. Ketika flare muncul, terjadi pelepasan sejumlah besar energi. Umumnya, kian banyak bintik hitam terbentuk, maka flare pun makin banyak.
Dampak
Flare yang mengeluarkan partikel kecepatan tinggi dalam badai matahari menyebabkan timbulnya tekanan pada magnetosfer bumi hingga mengakibatkan badai magnetik di bumi. Fenomena ini mengganggu komunikasi radio dan membuat jarum kompas berputar liar di bumi.
Bintik hitam matahari dan flare, menurut Sri Kaloka, Kepala Pusat Pengamatan Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), telah menimbulkan dampak berarti di beberapa wilayah di bumi—terutama di lintang tinggi—karena meningkatnya elektron di lapisan ionosfer. Tahun 1980-an, misalnya, pembangkit listrik di Quebec, Kanada, padam akibat terpengaruh badai matahari.
Gangguan di lapisan ionosfer di ketinggian 60 km-6.000 km dari permukaan bumi ini juga menyebabkan kekacauan dalam penyampaian sinyal komunikasi frekuensi tinggi, yang menggunakan lapisan itu sebagai media pemantul sinyal. Sistem navigasi dengan satelit global positioning system menjadi tidak akurat.
Jumlah bintik hitam yang tampak dari pengamatan dari bumi bervariasi, dari 1-100 titik. Bintik ini butuh waktu 11 tahun untuk mencapai jumlah tertinggi, lalu menurun lagi. Periode ini disebut siklus bintik matahari.
Sri Kaloka mengingatkan, puncak jumlah bintik hitam dapat terjadi lagi tahun 2011. Karena itu, semua pihak yang berkaitan dengan potensi dampak hendaknya mengantisipasi.
Data pemantauan bintik matahari dan flare terpantau di Pusat Pengamatan Dirgantara Lapan di Tanjungsari, Sumedang, sejak stasiun itu beroperasi 1975. Data itu dapat dimanfaatkan semua pihak yang berkepentingan. Hasilnya dikirimkan ke Bank Data di Swiss, urai Sri.
Periode dingin
Dalam kondisi ekstrem, baik tinggi maupun rendah, bintik hitam atau flare memberi dampak buruk bagi kondisi di bumi. Saat ini kejadian bintik hitam, menurut Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Mezak Ratag, justru dalam titik terendah.
Bintik hitam adalah indikator aktivitas matahari. Bila sedikit jumlahnya, energi yang dipancarkan matahari berkurang, yaitu 0,1 persen pada cahaya tampak, tetapi bisa puluhan persen pada ultraviolet. Kejadian bintik matahari bisa berkurang akibat menurunnya aktivitas dinamo matahari, konveksi, dan atau tekanan radiasi dari reaksi nuklir di pusat matahari.
Dalam beberapa tahun terakhir terjadi anomali aktivitas matahari itu. ”Hanya beberapa hari saja dalam dua tahun terakhir ini terpantau aktivitas bintik matahari,” ujar Mezak. Kondisi permukaan matahari hampir tanpa sunspot dalam beberapa tahun terakhir itu dikhawatirkan mengarah pada minimum Maunder kedua setelah kejadian pendinginan global sekitar tahun 1600-an.
Rendahnya aktivitas matahari berarti berkurangnya suplai panas ke bumi secara rata-rata global dalam skala waktu tahunan— bukan harian atau bulanan. Akan tetapi, pemanasan lokal masih bisa terjadi. Seperti beberapa bulan terakhir, suhu laut di bagian timur agak hangat, urai Mezak.
Berkurangnya suplai energi dari matahari pada bumi menyebabkan berkurangnya pemanasan lautan, berarti pula penguapan air laut yang akan menjadi hujan pun rendah.
Menurunnya suplai energi matahari juga melemahkan monsun. Gerakan angin monsun terjadi karena perbedaan panas antarlautan dan benua berdasarkan posisi garis edar matahari.
Pengaruh matahari ini tidak berkorelasi dengan peningkatan suhu udara beberapa pekan terakhir. Tingginya suhu udara di bumi disebabkan tingginya uap air, tetapi sedikit yang terbentuk menjadi awan, sedangkan matahari sudah di lintang selatan. Cahaya matahari sampai ke permukaan bumi tanpa halangan awan. Namun, inframerah yang dipancarkan ke bumi tertahan uap air sehingga menaikkan suhu. Uap air banyak dari laut.
Itu dijelaskan Mezak selaku Executive Panel Riset Monsun Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada pertemuan WMO di Beijing, Selasa (21/10), berdasarkan laporan sejumlah ilmuwan dari AS, China, dan Australia. Mereka mengatakan, ada tren pelemahan monsun di berbagai tempat di bumi. ”Di Indonesia, kondisi itu mengakibatkan pelemahan monsun rata-rata dalam beberapa tahun terakhir, tetapi variasinya dari tahun ke tahun bisa besar,” tambahnya.
Senin (20/10), Pusat Data Aktivitas Matahari (SIDC) di Belgia menghentikan peringatan ”All Quiet Alert”, karena peneliti di sana mendeteksi adanya aktivitas di matahari. Namun, laporan ini belum final, mengingat banyak pakar astrofisika matahari meyakini perioda aktivitas rendah ini masih akan berlangsung lama hingga berdampak pendinginan global (global cooling).
Pada kondisi belakangan ini, China mengalami musim dingin paling dingin dalam 100 tahun terakhir, Amerika Utara mencatat rekor tinggi salju, Inggris mengalami April terdingin.
Kondisi ini bukan pertama kali ini terjadi. Dari catatan sejarah, tahun 1645-1715 matahari hampir tanpa bintik, aktivitasnya sangat lemah. Pada kurun waktu itu, suhu permukaan global sangat rendah sehingga dinamakan Zaman Es Kecil.
Yuni Ikawati
TAHUN 2012 MASA SAKRAL DAN BERBAHAYA?
Galaksi
Galaksi
Heboh ramalan tahun 2012 sudah berlangsung lama, tetapi baru meluas sekitar 10 tahun terakhir. Penelitian tentang hal itu dilakukan banyak ahli dari berbagai bidang ilmu dan puluhan buku sudah diterbitkan.
Observasi astronomi sangat akurat selama berabad-abad para astronom genius Maya memberi pertanda, tanggal 21/12/2012 akan menjadi kelahiran zaman baru. Masa itu paling sakral sekaligus paling berbahaya dalam sejarah Bumi.
Menurut Laurence E Joseph dalam Apocalypse 2012, tanggal 21/12/2012 merupakan titik balik musim dingin tahunan ketika belahan Utara Bumi berada di titik terjauh dari Matahari sehingga siang sangat pendek.
Pada tanggal itu, tata surya dengan Matahari sebagai pusatnya, seperti diyakini bangsa Maya, akan menutupi pemandangan pusat Bimasakti dari Bumi. Para astronom Maya Kuno menganggap titik pusat ini sebagai rahim Bimasakti. Keyakinan itu didukung banyak pembuktian para astronom kontemporer bahwa di situlah tempat terciptanya bintang-bintang galaksi.
Saat ini, sejumlah lembaga penelitian ilmiah mengenai atmosfer, ruang angkasa, dan teknologi di Barat menduga ada lubang hitam tepat di pusat itu yang menyedot massa, energi, dan waktu, yang menjadi bahan baku penciptaan bintang masa depan.
Untuk pertama kalinya dalam 26.000 tahun, energi yang mengalir ke Bumi dari titik pusat Bimasakti akan sangat terganggu pada 21/12/2012, tepatnya pukul 11.11 malam. Semua itu disebabkan guncangan kecil pada rotasi Bumi.
Bangsa Maya yakin, sesingkat apa pun terputusnya pancaran dari pusat galaksi akan merusak keseimbangan mekanisme vital Bumi dan tubuh semua makhluk, termasuk manusia.
Memaknai ramalan
Ada yang menginterpretasikan 21/12/2002 sebagai ”kiamat”, tetapi banyak pula yang memaknainya secara kontemplatif.
Pakar psikologi transpersonal dari AS, Dr Beth Hedva, yang ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu, mengibaratkan Ibu Bumi sudah sangat dekat waktunya melahirkan. Proses kelahiran tak hanya diiringi darah dan penderitaan, tetapi juga harapan dan janji.
”Selalu terjadi kontraksi,” ujar Beth Hedva. Wujudnya perang, kekejian, dan bencana akibat penghancuran lingkungan dan perusakan atmosfer Bumi—dampak kebencian dan keserakahan manusia—serta bencana yang disebabkan faktor manusia dan nonmanusia.
Dalam antologi The Mystery 2012: Predictions, Prophecies & Possibilities (2007), ahli sistem komputer untuk ruang angkasa yang menjembatani ilmu pengetahuan dan spiritualitas, Gregg Braden, menyatakan, yang terpenting bukan apa yang akan terjadi, tetapi bagaimana potensi kolektif muncul dari pemahaman holistik dan kesadaran tentang siapa diri kita di tengah Semesta Raya.
Ahli fisika biologi dan ahli kanker pada Organisasi Kesehatan Dunia, Carl Johan Calleman, peneliti Kalender Maya, mengingatkan pada transformasi kesadaran manusia.
Robert K Stiler, Direktur Program Kajian Amerika Latin Universitas Stetson di DeLand, Florida, AS, menambahkan, ”Apa pun maknanya, bangsa Maya mengajak kita merengkuh hidup berkualitas dan kesehatan planet Bumi.”
Tahun 2012 adalah tahun berjaga dengan menyadari teknologi saja tak menjamin keberlangsungan Bumi. Begitu diingatkan José Argüelles, PhD, ahli Kalender Maya dan pakar sejarah seni dan estetika dari Universitas Chicago.
”Kalau kita tidak berjaga, planet Bumi akan hancur secara alamiah karena sekarang sudah jauh dari seimbang,” ia menambahkan. ”Pikiran manusia secara massal dikontrol dan dimanipulasi pemerintah dan institusi-institusi yang menjadi faktor kunci kehidupan modern.”
Christine Page, dokter medis, ahli homeopati dan kesehatan holistik, menjelaskan, tanggapan pada zaman baru sangat tergantung pada kemampuan memahami kesalingterkaitan dan menghargai Ibu Bumi. ”Alam dan semua makhluk hidup di Bumi adalah bagian diri kita yang harus diperlakukan penuh martabat, penghargaan, dan cinta,” ujarnya.
Jadi, pilihan ada di tangan manusia: membiarkan planet Bumi hancur atau melanjutkan evolusinya. Mari kita renungkan….
Sumber : Kompas.com – Senin, 23 Februari 2009 | 09:54 WIB
BADAI MATAHARI PERNAH TERJADI
Pada pagi hari,tepatnya 1 September 1859, salah seorang astronom terkenal di Inggris Richard Carrington tengah mengamati matahari. Dengan menggunakan alat filter, dia mempelajari permukaan matahari melalui teleskopnya. Namun, dia begitu terperanjat saat mengetahui ada kilatan cahaya terang keluar dari permukaan matahari. Tanpa diketahuinya, pada hari itu telah terjadi badai matahari yang diprediksikan dunia akan terulang kembali pada 1 September 2012.
Melansir pemberitaan Daily Mail, Selasa (21/4) dikisahkan Carrington mencatat titik cahaya terang yang merupakan awan plasma menuju ke bumi. Sekitar 48 jam kemudian dampaknya mulai terasa luar biasa. Miliaran aurora menyinari langit malam di bumi. Cahayanya sungguh kuat sehingga membuat kita mampu membaca di tengah malam.
Sementara itu, di California, sekelompok pekerja tambang emas bangun lebih awal dari biasanya akibat cahaya terang yang mereka sangka sudah pagi hari. Padahal jam di saat itu menunjukkan pukul 2 dini hari. Sejumlah operator telegraf menerima kejutan listrik tak beraturan akibat arus listrik matahari menghantam jaringan telekomunikasi. Saat itu dunia seakan-akan bermandikan listrik.
Menurut laporan “New Scientist”, badai matahari atau solar storm adalah siklus kegiatan peledakan dahsyat dari masa puncak kegiatan bintik matahari (sunspot), biasanya setiap 11 tahun akan memasuki periode aktivitas badai matahari.
Ilmuwan Amerika baru-baru ini memperingatkan bahwa pada tahun 2012 bumi akan mengalami badai matahari dahsyat (Solar Blast), daya rusaknya akan jauh lebih besar dari badai angin “Katrina”, dan hampir semua manusia di bumi tidak akan dapat melepaskan diri dari dampak bencananya.
Daniel Becker dari University of Colorado seorang ahli cuaca angkasa menjelaskan, “Sekarang ini kita semakin dekat dengan kemungkinan bencana ini. Jika manusia tidak dapat mempersiapkan diri dengan matang terhadap bencana badai matahari yang akan menimpa ini. Badai matahari ini mungkin akan memutuskan pasokan listrik umat manusia, sinyal ponsel, bahkan termasuk sistem pasokan air.”
ARI JULIANTO | GLOBAL
Sumber : harianglobal.com Wednesday, 22 April 2009 08:24
MATAHARI BADAI, TELEKOMUNIKASI LUMPUH?
bintikmataharinoaa
California, Amerika Serikat – Cahaya matahari adalah berkah bagi manusia. Namun kini, matahari bisa jadi biang kekacauan telekomunikasi di bumi. Pasalnya, aktivitas baru di matahari yang disebut Solar Cycle 24 terlacak oleh lembaga atmosfer Amerika Serikat, NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration).
Bintik matahari pertama sebagai penanda awal aktivitas tersebut dijumpai NOAA. Aktivitas ini akan berlangsung dalam waktu 11 tahun dengan pembentukan bintik matahari dan badai matahari yang kemungkinan memuncak di tahun 2011 atau 2012. Menurut NOAA, aktivitas tersebut bisa mengancam sistem komunikasi pesawat, sinyal GPS (Global Positioning System) dan jaringan ponsel di planet bumi.
“Bintik matahari ini adalah sinyal awal badai matahari yang intensitasnya akan terus meningkat dalam tahun-tahun mendatang,” tandas ilmuwan Douglas Biesecker dari Space Weather Prediction Center (SWPC) di NOAA.
Bintik matahari adalah sebuah aktivitas magnetis di permukaan matahari. Bintik baru temuan NOAA itu diidentifikasi sebagai #10.981 dan menjadi bintik matahari terbaru yang terlihat sejak NOAA menghitungnya mulai tahun 1972.
Menurut NOAA, dalam badai matahari, ada materi yang bisa sampai ke bumi dan mengganggu sistem komunikasi, sumber daya, sinyal GPS dan bahkan membahayakan satelit. Pembicaraan via ponsel dan penarikan uang dari ATM juga bisa terganggu.
“Ketergantungan kita pada teknologi berbasis angkasa membuat ancaman ini lebih berbahaya. Peran NOAA sangat penting untuk mengantisipasi gangguan ini,” ungkap administrator NOAA, Conrad C. Lautenbacher seperti dikutip detikINET dari NOAANews, Rabu (9/1/2008). Ramalan akan datangnya Solar Cycle 24 tersebut telah dikemukakan sejak bulan April 2007. ( fyk / wsh
Sumber: detikinet.com Rabu, 09/01/2008 08:33 WIB
ASTEROID DAN TSUNAMI


tsunami
Bisakah sebongkah batu ukuran raksasa yang tahun ke laut menyebabkan tsunami? Menurut para ilmuwan Norwegia tidak. Ini mereka kemukakan setelah membuat perhitungan dengan somulasi computer. Para peneliti dari Universitas Oslo membuat simulasi di computer dengan sebuah asteroid bergaris tengah 200 meter jatuh di laut sampai ke dalaman 5 kilometer.
Jatuhnya benda raskasa itu mengakibatkan gelombang maha besar, sampai 300 meter tingginya. Namun justru karena gelombang demikian tinggi tinggi, maka gelombang pecah menjadi gelombang-gelombang lebih kecil. 30 km dari tempat jatuhnya asteroid, tinggi gelombang sudah berkurang shingga 60 meter.
Rata-rata sekali dalam 10.000 tahun asteroid dengan garis tengah 200 meter jatuh ke bumi. Hingga kini dikawatirkan bila jatuh di laut akan menyebabkan tsunami.
Tsunami terjadi justru karena gelombang tidak pecah dan berawal tidak besar namun makin mendekati pantai makin tinggi dan kuat. Jatuhnya asteroid itu menurut simulasi di Norwgia terlalu curam untuk bisa mengakibatkan tsunami. Walaupun demikian mengerikan berada di laut dengan gelombang setinggi 300 meter, demikian jelas Galan Gisler pada majalah imliah Inggris New Scientist. Jatuhnya benda langit sebesar itu bisa mengakibatkan badai besar dan hujan deras.
Sumber: ranesi 14-05-2009
KAMAR BERSALIN BINTANG
bintang
Beberapa astronom Jerman dan Amerika baru-baru ini mengatakan menemukan kamar bersalin bintang-bintang di gugusan bintang Orion. Chris Davis, salah satu atronom yang dimaksud mengatakan ia menemukan tempat dimana bintang-bintang baru terbentuk.
Penemuan itu dilakukannya dari observatorium di Hawai. Menurutnya di gugusan bintang itu berjubelan penghuninya. Benda-benda langit yang masih muda itu melepaskan gas hydrogen sampai milyaran kilometer di kelilingnya.
Dengan meneliti tata bintang, para ilmuwan mengharapkan mendapat penjelasan mengenai tata surya kita.
Sumber: ranesi 14-05-2009
PLANET ASING TEREKAM SAAT MEMBARA
Ilustrasi gelombang panas yang terbentuk akibat perubahan suhu ekstrim di permukaan planet HD 80606b saat mendekati orbit yang sangat dekat dengan bintangnya
Ilustrasi gelombang panas yang terbentuk akibat perubahan suhu ekstrim di permukaan planet HD 80606b saat mendekati orbit yang sangat dekat dengan bintangnya
<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]--><!--[if gte mso 9]> <![endif]-->
SEBUAH planet asing yang berada 190 tahun cahaya dari Bumi mengalami perubahan suhu yang sangat ekstrem jauh melebihi perubahan iklim di Bumi. Betapa tidak, suhunya naik 700 derajat Celsius hanya dalam waktu enam jam.
Planet yang diberi nama HD80606b tersebut memang jenis planet gas, seperti Planet Jupiter, dengan suhu permukaan yang panas. Lintasan orbitnya berbentuk oval seperti orbit sebuah komet terhadap Matahari sehingga pada saat tertentu berada pada jarak sangat dekat dengan bintang yang dikelilinginya.
Pada jarak orbit rata-rata suhunya sekitar 526 derajat Celsius. Namun, saat mendekati bintangnya dengan jarak 10 kali lebih dekat daripada jarak Planet Merkurius ke Matahari suhunya naik hingga 1226 derajat Celsius karena radiasi panas yang dipancarkan Matahari ke permukaannya naik 800 kali lipat daripada saat planet berada pada orbit terjauh.
Perubahan suhu yang sangat cepat ini menghasilkan gelombang panas sangat tinggi di permukaannya diikuti gejolak panas yang akan menggetarkan seluruh permukaan planet. Rekaman saat-saat permukaannya membara terekam dengan jelas menggunakan teleskop ruang angkasa Spitzer.
“Ini merupakan pengamatan pertama perubahan cuaca di planet asing di luar tata surya,” ujar Gregory Laughin, profesor ilmu astronomi dari Universitas California Santa Cruz.
Peristiwa perubahan suhu ekstrem ini berulang setiap 111 hari sesuai kala revolusinya. Plant HD80696b dapat dilihat dari Bumi di sekitar rasi beruang besar (Ursa Mayor).
Pada 14 Februari 2009, planet asing tersebut akan melintas di antara Bumi dan bintang yang dikelilinginya. Pada posisi yang disebut transit itu, para astronom berkesempatan mengamatinya seperti sebuah bintik hitam yang bergerak.*
Sumber : Kamis, 29 Januari 2009 | 15:19 WIB
GERHANA MATAHARI PENGARUHI CUACA DAN EFEK PASANG
193717p
TERJADINYA gerhana yang menyebabkan sinar matahari yang sampai di bumi meredup dalam beberapa menit memberikan berbagai dampak perubahan lingkungan di bumi, terutama cuaca, arus angin, dan gelombang laut.
Menurut penjelasan pakar meteorologi dan astrofisika dari ITB, Mezak Ratag, Jumat (23/1), pada saat gerhana matahari, daerah yang dilintasi gerhana akan mengalami pengurangan radiasi matahari sesaat. Daerah bayang- bayang gerhana jauh lebih kecil, menjadi 2-3 persen dari daerah tersinari lainnya.
Selain itu karena singkatnya gerhana, orde kurang dari 10 menit, maka efeknya ke lingkungan bumi global dapat diabaikan. Namun, dampaknya terhadap dinamika cuaca lokal hingga regional bisa signifikan.
Pendinginan relatif yang terjadi sesaat dapat mengubah arus angin atau streamline lokal atau regional baik dalam arah vertikal maupun horizontal karena perubahan pola tekanan lokal. “Butterfly effect dari dinamika atmosfer yang khaotik mungkin secara berantai memengaruhi atmosfer global, tetapi dalam tingkat tidak signifikan,” urainya.
Pasang laut
Thomas Djamaludin, pakar astronomi dari Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, juga berpendapat efek penggelapan beberapa menit tidak memberi dampak signifikan.
Namun akibat gerhana akan terjadi efek pasang maksimum yang sama dengan yang terjadi saat muncul bulan baru atau purnama. “Mungkin saat gerhana atau kurang lebih dua hari berpotensi terjadi penguatan dampak cuaca buruk di laut dan pantai,” ujarnya. Selain itu dapat juga terjadi pemicuan pelepasan energi berupa gempa.
Manuel Sungging Mumpuni, peneliti bidang matahari dan antariksa dari Pusfat Sainsa Lapan, menambahkan, fenomena gerhana matahari cincin menarik perhatian para peneliti untuk mencocokkan perhitungan matematis dan pengamatan lapangan terhadap perubahan sinarnya, spektrum, dan untuk meneropong lembah di bulan.
“Peneliti dari Universitas Malaya Malaysia akan datang ke lokasi yang bakal mengalami gerhana matahari cincin,” ujarnya. Ia berharap di Indonesia juga dibentuk Tim Pengamat Gerhana Nasional seperti yang dilakukan negara jiran itu, dikembangkan dari tim yang bertugas melakukan perhitungan hisab dan rukyat.
Fenomena ini bisa dimanfaatkan sebagai daya tarik untuk pariwisata karena merupakan fenomena langka.(YUN)
Sumber : kompas.com Minggu, 25 Januari 2009 | 15:54 WIB
SEBUAH PLANET NYARIS NABRAK BUMI
Foto-foto dari jarak lebih dekat akan mengungkap lebih jauh mengenai bentuk, umur, dan komposisi Asteroid Steins.
Foto-foto dari jarak lebih dekat akan mengungkap lebih jauh mengenai bentuk, umur, dan komposisi Asteroid Steins.
<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]--><!--[if gte mso 9]> <![endif]-->JAKARTA, SELASA – Sebuah asteroid melintas sangat dekat dan bisa saja menabrak Bumi jika terjadi sedikit perubahan jalur orbit. Betapa tidak, jarak terdekat dengan Bumi saat melintas hanya tinggal 66.000 kilometer. Bandingkan jarak Bumi-Bulan yang rata-rata 384.000 kilometer.
Lebih mengejutkan lagi kedatangan asteroid ini tidak diduga-duga sebelumnya. Astroid yang diberi nama 2009 DD45 ini baru terdeteksi beberapa hari lalu.
Pengamat yang beruntung di wilayah Asia, Australia, dan Kepulauan Pasifik dapat melihatnya saat melintas di natar Bumi dan Bulan pada Senin (2/3) pukul 20.44. Batuan angkasa itu bergerak dengan kecepatan hanya 20 kilometer per jam.
“Kita melihat objek-objek yang melintas sedekat ini atau bahkan lebih dekat hanya tiap beberapa bulan sekali,” ujar Timothy Spahr, direktur Pusat Planet Minor Himpunan Astronomi Internasional (IAU) di Massachusetts, AS.
Asteroid 2009 DD45 baru dilaporkan kedatangannya pada 28 Februari. Observatorium Siding Spring Australia hanya merekamnya sebagai sebuah titik kecil. Saat itu, asteroid berada pada jarak 2,4 juta kilometer dan melesat dengan kecepatan sangat tinggi.
Dibanding objek ruang angkasa lainnya, asteroid termasuk kecil dengan diameter antara 20-50 meter. Asteroid merupakan objek batuan padat yang banyak mengorbit di kawasan yang disebut sabut asteroid antara Planet Mars dan Jupiter.
“Objek sekecil itu sulit dilihat dengan mata telanjang meski berada pada jarak sangat dekat dengan Bumi,” ujar Spahr. Namun, penganat amatir maupun profesional dapat mengatinya dengan teleskop ke arah lintasan yang tepat.
Berkat bantuan para astronom amatir di berbagai belahan dunia, bentuk lintasan orbitnya dapat diperkirakan. Asteroid tersebut mengorbit di bagian dalam tata surya dan diperkirakan menghabiskan waktu 1,56 tahun untuk sekali mengelilingi Matahari.
Hal ini menunjukkan bahwa peluang asteroid tersebut dapat melintas kembali dekat Bumi cukup besar karena waktu orbit yang tidak terlampau jauh berbeda. Meski demikian, para astronom belum sampai pada kesimpulan bahwa objek tersebut mengancam Bumi.
“Sejauh ini tidak ada kejadian yang luar biasa,” ujar Spahr.
Sumber : kompas.com Selasa, 3 Maret 2009 | 23:21 WIB
ASTEROID UNIK “BERGANTUNGAN” PADA BUMI
CALIFORNIA – Sebuah asteroid berukuran setara rumah penduduk terlihat selalu mengikuti perputaran bumi. Untungnya, jaraknya dan ukuran asteroid tersebut disinyalir tidak berbahaya.
Meskipun ukurannya cukup kecil dan jaraknya hanya dua kali dari jarak bulan ke bumi, pihak NASA menemukan aasteroid tersebut terus menerus bergantungan dengan bumi. Asteroid tersebut, yang dalam daftar disebut sebagai 2009 BD merupakan sebuah asteroid yang aneh.
“Kami menyebutnya sebagai asteroid co-orbit ‘yang selalu menemani bumi layaknya matahari’,” ujar para astronom melalui situs resmi SpaceWeather, Senin (26/1/2009).
Ini bukanlah asteroid pertama yang ‘menempel’ pada bumi. Sebelumnya, pada tahun 1999, sebuah asteroid co-orbital ditemukan dengan nama 2003 YN107. Asteroid tersebut selalu mengikuti gerak bumi hingga akhirnya terlepas pada tahun lalu.
Belum lagi sebuah asteroid dengan nama 2002 AA29 yang pernah muncul dan sempat disebut-sebut sebagai planet bulan ke dua.
Batu asteroid 2009 BD diprediksi memiliki diameter 10 meter dengan jarak sekira 644.000 kilometer dari bumi. Diprediksi, pada tahun 2010 asteroid tersebut akan terlepas dengan jarak akhir 9,3 juta mil dari bumi. (srn)
Sumber : Sarie – Okezone – Senin, 26 Januari 2009 – 14:04 wib
DITEMUKAN PLANET MIRIP BUMI
“Planet CoRot-Exo-7B terdeteksi dengan teknik transit. Saat planet melintas di depan bintangnya akan terekam sebagai titik hitam ditandai gejolak cahaya di sekitarnya”]Planet CoRot-Exo-7B terdeteksi dengan teknik transit.  Saat planet melintas di depan bintangnya akan terekam  sebagai titik hitam ditandai gejolak cahaya di sekitarnya[/caption]

PARIS, RABU — Satelit pemburu planet asing milik Perancis, COROT, berhasil merekam sebuah planet baru di luar tata surya. Ukurannya tak lebih dari dua kali ukuran Bumi dan termasuk planet asing terkecil yang pernah ditemukan.
Planet tersebut mengorbit bintang yang mirip Matahari dan kemungkinan termasuk planet padat seperti Bumi. Penemuan planet padat termasuk mengejutkan karena, dari 300-an planet asing yang terdeteksi, hampir semuanya berupa gumpalan gas raksasa seperti Planet Jupiter.
“Untuk pertama kalinya kami kebetulan mendeteksi sebuah planet yang berbatu seperti Bumi. Penemuan ini sangat penting dalam rangka memahami pembentukan dan evolusi planet kita,” ujar Malcolm Fridlund, Ketua Ilmuwan COROT dari Badan Antariksa Eropa (ESA).
Obyek yang diberi nama CoRot-Exo-7B terletak begitu dekat dengan bintang induknya yang berada 457 tahun cahaya dari Bumi (1 tahun cahaya setara dengan 9,5 triliun kilometer) sehingga permukaannya terbakar. Suhu di permukaannya sangat panas sehingga diperkirakan berupa lava pijar atau uap air dengan konsentrasi tinggi antara 1.000 hingga 1.500 derajat Celsius.
Planet tersebut mungkin tersusun dari setengah batu dan setengah air. Jadi, pantas kalau planet tersebut disebut “planet sauna” mengingat betapa panasnya suhu di permukaannya. Dengan suhu sebesar itu, kehidupan hampir dikatakan mustahil.
Para astronom Perancis dan Badan Antariksa Eropa (ESA) mendeteksi keberadaan planet itu saat posisi transit. Teleskop yang dibawa COROT mendeteksi kedipan cahaya akibat gerakan planet di depan bintangnya. CoRot-Exo-7B menempuh lintasan yang sangat cepat. Satu tahun di sana setara dengan 20 jam di Bumi.
Dengan teknik tersebut, para astronom dapat memperkirakan ukuran planet tersebut. Planet tersebut jelas bukan planet gas meskipun belum diketahui massanya. Namun, diperkirakan antara 5,7 hingga 11 massa Bumi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar